Ayah, Maafkan Putri

Sore itu hujan deras mengguyur, tiba-tiba motor yang saya kendarai mogok, dengan  tergopoh2 saya mendorong motor yang tiba2 mogok di sebuah halte. Sekujur tubuh saya basah kuyup dan sedikit menggigil menahan dinginnya hempasan angin di sertai hujan. Di pinggiran halte kuarkir sepeda motor , saya pun duduk sambil mengibas-ngibaskan pakaian agar  tidak terlalu basah kuyup. Belum lama saya duduk di halte tsb tiba-tiba ada sepasang anak muda lelaki dan perempuan berjilbab putih yang ikut menepi di halte itu,sepertinya mereka mahasiswa.Saya  mendekati mereka berdua dan alangkah terkejutnya saya begitu pula perempuan muda tersebut, tapi entah karena alasan apa saya cuma bilang “maaf dek kalau boleh tahu bengkel motor terdekat dari sini dimana ya??” maka si pemuda tersebut memberi tahu  lokasi bengkel, sedangkan sang perempuan muda hanya tertunduk malu dan cemas. Sayapun  pergi berlalu menunju bengkel yang dimaksud. Setelah motor selesai diservis, sayapun  segera pulang karena senja semakin menguning,begitu sampai di rumah saya di sambut manis oleh istriku yang sudah lama menunggu dengan cemas .

“Ayah kok tumben pulangnya sore??,ibu khawatir loh pak?!”
“Iya bu…tadi motor tiba2 mogok,mana hujan deras lagi,tapi untung cuma masalah busi”
“Oh ya bu..Putria mana??”
“Iya nih yah ibu juga cemas,tadi pagi sih pamitannya sehabis kuliah mau langsung ke tempat temennya untuk belajar bersama…”
“Oh….ya sudah mudah-mudahan Putri baik-baik aja,mungkin karena hujan jadi dia agak terlambat”
“Ibu juga berharap begitu, Ayah”
Belum sempat saya beranjak ke kamar mandi,terdengar suara ketukan pintu.
“Assalamu’alaikum??”
“Wa’alaikum salam”
” biar Ayah yang buka..”
“Ayah, jangan di marahi ya anak kita,kasihan…”
“Ibu tenang saja Ayah nggak bakal marah-marah kok”
Pintu pun saya buka, dan Putri anak saya yang di halte tadi terlihat tertunduk lesu tanpa berani mengangkat sedikit pun mimik wajahnya.
“Nak, ayo masuk  nanti kamu masuk angin…” tegurku pada putriku sendiri.”ayo masuk nak kamu kenapa sih kok mukanya pucat, sakit ya?” sambung ibunya.
“Ya sudah biar putria aja dulu bu yang mandi,air hangat untuk Ayah biar di pake dulu”
“Ayo putri..kamu kenapa sih nak??” tanya si ibu
“Enggak kok bu…cuma kedinginan”
“ya sudah mandi dulu sana pake air hangat,ibu mau ngerebus air buat bapak kamu”
“Iya bu…”
Putri merasa sangat malu dengan kejadian tadi sore di halte,dimana ayah mengetahui bahwa dia jalan sama cowok,padahal hal tersebut di larang oleh ayah,namun dia masih tak habis pikir kenapa ayah tidak langsung memarahinya saat di halte malahan pura-pura tidak kenal anaknya sendiri.hal ini benar-benar membuat putri sangat gelisah.Ketika putri keluar dari kamar dia jumpai ibunya sedang tertidur di depan TV di ruang tengah maka putri pun sangat hati-hati saat mencoba membuka pintu depan,setelah membuka pintu depan rumahnya dia dapati sang ayah sedang duduksendirian di teras rumah, ayah terlihat murung dan sedih semakin dekat putri melangkah semakin jelas bahwa  ayah sedang menangis.
Putri pun duduk di depan ayah sambil tertunduk malu,dia tidak berani membuka perbincangan karena dia sadar bahwa segala alibi yang dia ucap pasti malah menambah kesalahannya di mata  ayah.
“Ayah sedih….Ayah kecewa pada diri sendiri,ternyata selama ini Ayah terlalu percaya diri dengan cara  mendidik kamu, Ayah terlalu sombong di hadapan Allah Subhaanahu Wa ta’ala sehingga Ayah memandang sebelah mata do’a untuk kebaikan anak yang seharusnya Ayah panjatkan setiap pagi dan sore,maafkan Ayahmu nak atas sikap Ayahtd sore yang berpura-pura tidak mengenalimu,Ayah sangat malu menjumpai anak kesayanganAyah sendiri dalam keadaan seperti itu,berdua-duan dengan lelaki sementara Ayah sudah tanamkan sebelumnya ke anak Ayah bahwa perbuatan itu diharamkan dalam Agama,tetapi ketika Ayah menemui kenyataanny sore tadi,Ayah mulai sadar ternyata apapun yang Ayah ajarkan ke anak tidak ada gunanya,tidak di ambil maknanya. Sebenarnya Ayah cuma menjalani tanggung jawab saja sebagai orang tua yang wajib mendidik anaknya namun bila mana anak punya pilihan hidup sendiri Ayah hanya bisa berdo’a agar anak tidak salah melangkah “
Putria pun langsung bersimpuh dan berlutut di hadapan ayah, dia pegang telapak tangan ayah dan dia cium serta dia benamkan kepalanya di pangkuan ayah sambil menangis sejadi-jadinya’“Maafin putria ayah,maafin kesalahan putri,maafin kelancangan putri yg sudah berani melanggar pesan Ayah…..!”
“Sudahlah jangan buat ibumu terbangun dan tahu masalah ini karena nanti hanya menambah kesedihannya saja..sudah..sudah Ayah sudah maafin kamu sejak kamu pulang tadi, Ayah minta kamu lebih bijak lagi ya menanggapi nasehat orang tua,semua demi kebaikanmu sendiri bukan untuk kepentingan orang tuamu”
Putria merasa seperti baru terbangun dari tidur panjang, dia begitu malu pada dirinya sendiri karena telah berani lancang terhadap sang ayah yg sedemikian bijak membimbingnya,membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan berbagai pengorbanan lainnya yang tak ternilai demi kebaikan dirinya.
Semenjak hari itu putria berubah total,dia memilih menghindar dari pergaulan teman-temannya yang selama ini selalu mengajak untuk berhura-hura,pacaran dan semacamnya ,kini dia lebih banyak menghabiskan waktunya di laboratorium, diperpustakaan kampus, meski hal tersebut mendapat banyak reaksi negative dari teman-temannya namun dia jalani dengan sabar dan memberi penjelasan kepada mereka secara bijak.
Kini ia tahu bahwa kebahagiaan yang selama ini di cari oleh banyak orang ternyata salah satunya ada pada perbuatan berbakti kepada kedua orang tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: