Cerita Kalung Mutiara

Ini cerita tentang Nikmah Nissyah, anak bungsu saya. Pada suatu sore, Nikmah menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang antri di kasir, Nikmah melihat kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan yang tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Nikmah sangat ingin memilikinya.

“Bunda, bolehkah Nikmah membeli kalung ini?” sambil menggenggam erat kotak kalung tersebut. Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Nikmah. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Nikmah yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.
“Baiklah … Nak, kamu boleh memiliki Kalung ini.
“Terimakasih…, Bunda”
Nikmah sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi. Sebab,kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi  hijau…

Sementara itu setiap malam sebelum tidur, saya Ayah Nikmah membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, saya bertanya “Nikmah…, sayang Enggak sama Ayah ?”
“Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Nikmah sayang Ayah !”
“Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…
“Yah…, jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil “si Poni” boneka kuda dari eyang… ! Itu kesayanganku juga
“Ya sudahlah sayang,… nggak apa-apa !”. saya mencium pipinya sebelum keluar dari kamarnya.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, saya bertanya lagi,
“Nikmah…, sayang nggak sih, sama Ayah?”
“Ayah, Ayah tahu bukan !!! kalau Nikmah sayang sekali pada Ayah?”.
“Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu.”
“Jangan Ayah… Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini..”Kata Nikmah seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika saya masuk ke kamarnya, Nikmah sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Nikmah rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. air mata membasahi pipinya…”Ada apa Nak, Mengapa Nikmah menangis ?” Tanpa berucap sepatah pun, Nikmah membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya” Kalau Ayah mau…ambillah kalung Nikmah”
Saya tersenyum mengerti, saya meraih kalung itu dari tangan mungil Nikmah. Kalung itu kumasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, saya mengeluarkan sebentuk kalung mutiara putih…sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi anak saya Nikmah”… ini untuk Nikmah. Sama bukan ?  tapi kalung ini tidak perlu dilepas lagi dan tidak akan membuat lehermu menjadi hijau, karena kalung mutiara ini  asli dan bukan imitasi lagi.

Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Nikmah : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: