Ana Khoirun Minhu

Iblis dikutuk dan dikeluarkan dari surga, karena menolak bersujud kepada Adam as manusia pertama  dan merasa dirinya lebih baik. “Allah berfirman ‘Hai iblis apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu termasuk orang-orang lebih tinggi?’ Iblis berkata ‘Aku lebih baik daripadanya karena engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah’.” . “Ana khoirun minhu ” kata Iblis. Merasa diri lebih baik dari pada yg lain itulah sombong.

Kita berlindung kapada Allah dari perbuatan sombong baik dalam bentuk sifat sikap maupun perilaku karena ia dapat menjadi penghalang masuk jannah. Rasulullah saw bersabda “Tidak akan masuk jannah seseorang yang terdapat dalam hatinya sifat sombong meskipun hanya sebesar biji sawi.” . Berhati-hatilah kita karena sifat sikap dan perilaku merasa lebih baik, lebih mulia bisa menimpa siapa saja.

Sering kali dalam pergaulan muncul kalimat yang konotasinya merendahkan orang lain. Berhati-hatilah..!Kisah Abu Dzar patut kiranya menjadi pelajaran. Suatu ketika beliau sedang marah kepada seorang laki-laki sampai terucap “Hai anak wanita hitam.” Rasulullah mendengar hal itu kemudian bersabda “Wahai Abu Dzar tidak ada keutamaan bagi kulit putih atas kulit hitam” . Mendengar hal itu Abu Dzar sangat menyesal hingga meminta orang tadi untuk menginjak pipinya.Perihal sombong Rasulullah mendefinisikan dalam sebuah riwayat “Kibr adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” . Dua kata kuci menolak kebenaran dan meremehkan manusia itulah sombong.

Imam Ghozali mengajari cara mawas diri agar tidak terjebak dalam sikap merasa lebih baik.

  • Ketika kita melihat seseorang yg belum dewasa kita bisa berkata dalam hati “Anak ini belum pernah berbuat maksiat sedangkan aku tak terbilang dosa yg telah kulakukan maka jelas anak ini lebih baik dariku.”
  • Ketika kita melihat orang tua “Orang ini telah beramal banyak sebelum aku berbuat apa-apa maka sudah semestinya ia lebih baik dariku.”
  • Ketika kita melihat seorang ‘alim “Orang ini telah dianugerahi ilmu yang tiada kumiliki ia juga berjasa telah mengajarkan ilmunya. Mengapa aku masih juga memandang ia bodoh bukankah seharusnya aku bertanya atas yang perlu kuketahui?”
  • Ketika kita melihat orang bodoh “Orang ini berbuat dosa karena kebodohannya sedangkan aku? aku melakukannya dengan kesadaran bahwa hal itu maksiat.

Lantas atas dasar apa kita membanggakan diri ? Bukankah dunia ini bersifat fana? Bukankah kekayaan pangkat kecantikan keturunan pengikut dan ilmu merupakan anugerah Allah yg bersifat sementara? dan dapat dicabut sewaktu-waktu jika Allah mengendaki? Lagi pula bukankah yg dilihat oleh Allah adalah hanya ketakwaan seorang hamba-Nya?  Maka tidak ada alasan kita sebagai manusia merasa ana khairun minhu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: